Sebagian besar orang men 'dewa' kan apa yang dinamakan nilai akademis, namun saya adalah orang yang paling menentang jika nilai akademis dijadikan ukuran untuk menentukan tingkat kecerdasan seseorang di dunia pendidikan terutama di tingkat universitas(bukan karena nilai akademis saya di bawah rata-rata), adapun beberapa alasan saya untuk mengambil sikap ini adalah sebagai berikut:
- dosen , jika kita menjadikan nilai akademis sebagai patokan maka yang menjadi sumber utama dari patokan tersebut adalah dosen, kita tidak bisa membandingkan dua orang yang mempunyai nilai yang berbeda dengan dosen yang berbeda pula.Hal ini sangat mungkin terjadi di universitas 'dipatiukur' tempat saya menimba ilmu sekarang, di sini terdapat banyak kriteria dosen dalam hal pemberian nilai akademis ada dosen yang sangat suka mengobral nilai dengan memberikan nilai "rata kiri" bahkan ada pula yang meberikan nilai A pada semua mahasiswa ('buset dah' baek bangat dosen seperti ini), namun demikian adapula yang termasuk dosen favorit saya yaitu dosen yang memberikan ilmu yang maksimal dan memberikan nilai yang objektif walaupun terkadang dengan nilai yang menyakitkan bagi sebagian orang.
- Kondisi pada saat ujian akhir, seseorang yang memiliki otak yang brilian bisa saja memperoleh nilai akhir yang cukup bahkan kurang.Nilai akademis yang diperoleh oleh seseorang di dunia pendidikan biasanya diukur dari tiga komponen utama yaitu, nilai tugas, nilai UTS, dan nilai UAS.jika kedua nilai yang disebut pertama telah dipenuhi dengan nilai yang baik, hal ini tidak justru menjadikan seseorang tersebut memperoleh nilai maksimum pada saat pemberitahuan nilai,karen jika pada saat ujian dia sakit ato mendapat masalah yang sangat rumit diluar pendidikan maka kemungkinan besar nilai orang tersbut bukannya bagus melainkan menjadi buruk dan bahkan sangat buruk.
- Transparansi nilai, disebagian besar universitas memang transparansi nilai sangat di utamakan misalnya saja di universitas 'ciumbeluit' disana transparansi nilai sangat dijunjung oleh dosen maupun mahasiswa, seminggu setelah ujian berakhir biasanya dosen langsung mengumumkan angka perolehan mahasiswa hal ini sangat membantu mahasiswa untuk mengoreksi diri dan disana pun terbuka kemungkinan untuk berdebat dengan dosen yang memberi nilai jika seorang mahasiswa merasa benar akan jawabanya(maklum lah dosen kan manusia juga), bagaimana di fakultas recht of 'dipatiukur' univeristy? disana memang sebagian dosen ada yang transparan dalam penilaian, namun ironisnya sebagian besar dosen malah tidak transparan dalam pemberian nilai,bahkan ada dosen yang sepertinya 'random' dalam memberikan nilai.
- soal ujian yang itu-itu saja, bagi mereka yang mempunyai banyak koleksi soal ujian tahun-tahun kemarin maka dapat saya pastikan dia akan memperoleh nilai baik pada saat pengumuman dan kasian deh mereka yang kurang gaul.Hal ini lah yang disenangi oleh sebagian besarrrr mahasiswa terutama mahasiswa "fakultas recht of dipati ukur", padahal dalam mempelajari recht kan kasus-kasus yang terjadi ga pernah tetap (emang ilmu eksak).Saya jadi teringat akan perkataan salah satu dosen favorit saya prof(bagi saya sendiri) Aman Sembring Meliala,S.H.,M.H. yang berkata: "gila!!! mau jadi apa bangsa ini"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar